banner 728x250

Malalai, Mahasiswa Internasional UMM Suka Suasana Ramadan di Indonesia

Mahasiswa Internasional UMM, Malalai Ahmadzai. (Foto: ist)
banner 120x600
banner 468x60

MALANG – Menuntut ilmu jauh dari negara asal dan harus beradaptasi dengan budaya baru merupakan suatu tantangan tersendiri.

Belum lagi jika harus menjalani puasa ramadan jauh dari sanak keluarga. Hal itulah yang dirasakan oleh Malalai Ahmadzai, mahasiswa Internasional yang sedang menjalani pendidikan Strata satu (S1) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

banner 336x280

Malalai sapaan akrabnya menjelaskan bahwa bulan ramadan tahun ini merupakan kali keempatnya menghabiskan ramadan di Indonesia.

Saat ini, ia sudah beradaptasi dengan baik terhadap kebudayaan Indonesia. Meskipun begitu, Mahasiswa asal Afghanistan ini mengaku bahwa tahun pertamanya menjalani ramadan di Indonesia terasa sangat berat.

“Adaptasi terberat di tahun pertama saya adalah perihal makanan. Hal ini terjadi karena makanan di Afganistan dan Indonesia sangat berbeda. Orang-orang Indonesia sangat menyukai makanan-makanan pedas, sementara saya tidak terlalu menyukai makanan pedas. Namun dengan berjalannya waktu saya jadi menyukai makanan Indonesia. Beberapa makanan favorit saya adalah nasi goreng, soto, dan sate,” kenang Malalai, Sabtu (30/04/2022).

READ  Warga Malang Banjiri Rise And Shine Kayutangan Heritage

Meskipun awalnya tidak bisa beradaptasi dengan baik, namun sekarang Malalai sangat menyukai kegiatan bulan ramadan di Indonesia.

Malalai bercerita bahwa ia suka pasar takjil yang selalu ada di setiap bulan ramadan. Selain memudahkan persiapan berbuka puasa, pasar takjil juga memiliki variasi makanan dan minuman yang banyak.

“Tak hanya makanan dari pulau Jawa saja, beberapa penjual juga menjual makanan khas dari luar pulau jawa. Hal ini lah yang tidak ada di Afghanistan ketika bulan Ramadan berlangsung,” ungkap Malalai.

READ  Mau Masuk Perguruan Tinggi Negeri? Ayo Bimbel di Talenta

Selain pasar takjil, waktu puasa yang singkat di Indonesia juga membuat Malalai senang. Di Afghanistan, jangka waktu untuk berpuasa sekitar 16 sampai 17 jam setiap harinya. Sementara di Indonesia hanya berpuasa selama 13 jam saja. Cara membangunkan orang untuk sahur juga terkesan unik.

“Di Afghanistan kami sahur secara mandiri. Namun di Indonesia waktu sahur dibangunkan oleh warga setempat lewat masjid maupun patroli keliling. Uniknya lagi, di sini ada pemberitahuan waktu imsak yang memudahkan orang untuk mengetahui kapan berakhirnya waktu sahur. Hal lain yang saya syukuri ketika menjalani Ramadan di Indonesia adalah bisa tarawih di masjid. Ketika berada di Afghanistan hal itu tidak bisa saya lakukan,” kata mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI) tersebut.

READ  Menko PMK Dorong UMM Atasi Kemiskinan Spiritual dan Material Bangsa

Beradaptasi dengan baik, bukan berarti Malalai tidak merindukan kampung halamannya di Afghanistan.

Malalai mengaku bahwa ia sangat kangen keluarga, apalagi di momen-momen puasa ramadan seperti ini.

“Alhamdulillah, di sini saya memiliki teman dekat yang sudah saya anggap seperti keluarga, sehingga cukup mengobati rasa rindu saya akan keluarga saya di Afghanistan,” pungkasnya mengakhiri.

https://www.instagram.com/p/Cc-Co5SJMN2/?igshid=YmMyMTA2M2Y=